Ada suara sabar pada
penjual2 jas hujan.
Gojek payung, dan ojek motor tetap tawarkan jasa meski tahu kebanyakan orang memilih GrabCar.
Ada sabar pada bapak di kursi seberang. Menggigil genggam kantong isi sedikit makanan dan uang 3000 perak kesanggupannya membayar.
Penumpang tahan sabar tunggu muatan penuh.
Kalau tak dengar keluh 2 org sopir mungkin sudah cari angkot lain.
"Asal penuh 1 rit saja, saya pulang"
Satunya bilang...
"Sore tadi masih cakep tuh! Tapi baru mau narik lagi , eeehh hujan!
Angkot susuri emperan toko2 Pasar Anyar. Ada lagi sabar pada 4 Mamang Ojol yang memilih tidur meringkuk di samping motornya dari pada pulang
Tiba2 angkot berhenti.
Sopir sabar turun dengan air 1 botol air buat siram mesin. Wushh...keluar asap.
Kenapa nggak dari tadi urus mesin waktu nge-tem 1/2 jam ??
Butuh sabar.
Lihat punggungnya basah, mukanya cemas, jadi berharap Allah kirim gambaran itu untuk anak istri dengan caraNya.
Di jajaran wurung2 tenda.
Pedagang2 melamun. Sajian masih utuh tapi kursi2 sudah tersusun.
Ribuan sabar terserak... luput dari mata.
Harum sabar lekat dengan syukur. Lihat sabar jadi syukur. Mau pandai syukur harus sabar.
Jam 10.
Di gerbang Cibuluh tidak ada ojek.
Berpayung selusuri jalan
Lewati makam
Merunduk rendah lewati portal yg sudah terkunci.
Untung tidak becek..
Untung ada lampu2 gang menyala terang dengan jarak berdekatan.
Untung ada petugas kebersihan Desa ambil sampah dari pagar warga.
Syukuri hasil kerja pemerintah sambil sabar hadapi kekurangannya.
Sabar syukur memang butuh perjuangan dan pertolongan.
Komentar
Posting Komentar